‘Jejak kaki sang penebar
rasa’
Aku coba pecahkan kerasnya hatiku sendiri,
melanjutkan usahamu dulu saat kau coba
merengkuh dan meluluhkan kerasnya benteng kekecewaanku yang membuat hatiku
terasa keras untuk kau miliki…
Aku sesak… !!!
Itu kenyataannya yang kudapat saat ego
sudah merajai nalarku… Aku membutuhkan oksigen, oksigen yang dapat ku pakai
untuk melegakan aku.
Kau benar… aku memang telah terikat oleh
kekecewaan yang telah mendarah daging dan menjamah segala yang hatiku miliki.
Kau seharusnya tau, aku mulai bisa
tersenyum saat kau mencoba melepaskan belenggu kekecewaan hatiku dengan bekal
yang kau miliki, bekal sederhana milikmu yang terasa langsung dihatiku. Bekal
itu berbentuk ketulusan yang menjelma selama 2 tahun keberadaanmu disampingku.
Sebenarnya aku sudah cukup sadar kalau kau memiliki ketulusan untukku melalui
penantianmu akan hadirku.
Tapi senyum dibibirku dipaksa pergi oleh
satu nama yaitu “EGO”… nama yang tak pernah kupahami tapi aku sadar akan
kehadirannya.
Lenyapkan…!!!!
Aku mohon lenyapkan ego itu dariku, yang
membuatku begitu picik memandang kebaikanmu, yang membuat aku begitu acuh akan
ketulusanmu. Kini aku mulai sadar aku
adalah aku yang selalu berjalan merangkak dalam kehidupan ini bila ego itu
terus menjadi benalu dihatiku.
Tolong bebaskan aku,
bebaskan jiwaku yang terkekang akan rasa
yang tak ingin ku miliki. Rasa angkuh yang tak beralasan pada sosokmu.
Wahai kau makhluk tulus yang mempunyai
bekal sederhana dihatimu, teruskanlah langkah kakimu kearahku, kearahku yang
telah lama mengulurkan tangan untuk kau raih jemarinya, lepaskan pasungan
hatiku dan berikan aku sedikit nafas lega untuk semua kesesakkan ini. Cukuplah
jejak-jejak kakimu yang membuatku percaya akan keberadaanmu, keberadaan sosok
yang dapat merengkuh kesakitanku dalam dekapanmu dan membelaiku dalam kata yang
sahaja.
Izinkan aku sejenak menaruh perihku
dihadapanmu dan menyandarkan jiwaku yang lelah dibahumu. Ku hanya ingin
titipkan hatiku padamu….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar